Rabu, 24 Desember 2014

Fenomena Fanatisme Suporter Sepak Bola di Dunia Maya

Posted by sebutjohn On 12/24/2014 04:11:00 AM 0 komentar

Seiring dengan perkembangan zaman, fanatisme seseorang atau suatu kelompok terhadap suatu yang mereka gemari dapat dengan mudah kita temui di dunia maya. Bisa dikatakan demikian karena mereka akan selalu ‘menampilkan’ dirinya apabila terdapat hal, pembahasan, atau berita mengenai sesuatu yang mereka gemari. Fanatisme penggemar di dunia maya ini bermacam-macam jenisnya mulai dari mereka yang menggemari artis, penyanyi, band, atlet, klub olahraga, atau apa pun yang berhubungan dengan Korea. Dalam konteks ini, fanatisme suporter sepakbola -klub olahraga untuk lebih spesifiknya- mendapat ranking teratas dalam urutan kefanatikan penggemar di dunia nyata maupun dunia maya. Mengapa demikian? Selain karena sepak bola merupakan olahraga paling populer dan digemari terutama di kalangan masyarakat Indonesia, juga disebabkan pertandingan sepak bola di televisi kini tidak terhitung jumlahnya tiap pekan. Dan apabila dalam satu pertandingan saja kefanatikan suporter ini dapat dengan mudah kita temui, apa yang terjadi dalam kurun waktu satu minggu?
Fanatisme secara harafiah adalah suatu pandangan, bisa positif atau negatif, terhadap sesuatu yang tidak bersandarkan pada teori dan kenyataan, namun dianut sangat mendalam sehingga menjadi suatu kebiasaan yang sulit luruskan atau dihentikan. Fanatisme bermodalkan keyakinan. Biasanya, seseorang yang terlalu fanatik terhadap sesuatu secara tidak sadar telah merubah pola pikirnya menjadi tidak rasional. Fanatisme ini tidak hanya memiliki faham sendiri, mereka juga menyebarkan faham/kepercayaan mereka sehingga faham/kepercayaan lain yang bertentangan tidak lagi mendapat tempat di masyarakat atau kelompok tertentu. Dalam hal fanatisme suporter sepak bola ini misalnya, seseorang atau kelompok A akan mendapat ‘intimidasi’ dari kelompok/suporter B yang tim sepak bolanya baru saja baru saja mengalahkan tim sepak bola A.
Intimidasi yang dimaksud dalam konteks ini tentu saja yang terjadi di dunia maya dan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Ejekan, cemooh, atau cacian dapat dengan mudah kita temui di dunia maya dan media sosial saat akhir pekan. Karena pada saat itulah tayangan sepak bola sedang padat-padatnya. Dampaknya, buat mereka yang tidak termasuk dalam kategori suporter fanatik akan merasa terganggu karena biar bagaimana pun fanatisme yang berlebihan, dalam hal apa pun, tentu tidak terasa nyaman dilihat dan tidak baik. Fanatisme suporter sepak bola ini nantinya akan ‘mengotori’ berbagai media sosial dan blog-blog dengan perkataan-perkataan yang tidak seharusnya dikeluarkan.
Mari kita mengerucutkan sedikit tentang fanatisme suporter sepak bola. Di Indonesia misalnya, banyak dari bebagai golongan masyarakat menyukai olahraga terpopuler ini. Namun dikarenakan terpisah oleh jarak ribuan kilometer yang bisa kita lakukan hanyalah menontonnya melalui pesawat televisi, memberi komentar dan lain sebagainya. Hal tersebut memang normal. Di negara Asia mana pun melakukan hal yang sama. Dan sepak bola tidak akan menjadi sebegitu populernya jika bukan karena fanatisme para suporternya. Sepak  bola adalah substansi yang tidak bisa dipisahkan dari fanatisme. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana sepak bola tanpa fanatisme suporternya. Mungkin kita tidak akan melihat tribun-tribun penuh bergemuruh menyanyikan lagu-lagu khas tim masing-masing.
Fans mempunyai pengaruh yang luar biasa untuk tim yang didukungnya. Fans yang sesungguhnya, yang datang menonton langsung ke stadion dapat membantu finansial klub dengan membeli tiket pertandingan, marchendise, bahkan fans mampu mengintimidasi langsung wasit pengadil di lapangan maupun pemain lawan. Namun yang harus digaris bawahi di sini adalah kefanatikan para suporter sepak bola layar kaca (plastic fans) di Indonesia yang mulai “out of the box” dan sudah tidak wajar. Sebagai fans jarak jauh, kita juga sangat mempengaruhi apa pun yang berkaitan dengan klub yang kita dukung dari sisi yang berbeda. Kita dapat membeli marchendise klub, kita dapat mencari apa pun informasi mengenai klub idola kita hanya dengan melihat website, melalui dunia maya fans dapat menuntut untuk mengganti pelatih, menjual pemain yang jelek, atau membeli pemain yang kita inginkan, meski belum tentu terlihat dampaknya dengan pasti.
Contoh lainnnya pengaruh fans di dunia maya adalah banyaknya like pada Facebook fan page Manchester United dan Barcelona akan menambah tingkat kepopuleran tim tersebut. Otomatis tim terpopuler akan mendatangkan sponsor yang banyak yang nantinya akan menjadi income untuk mereka.Fenomena fans sepak bola di Indonesia mulai ramai dan banyak bermunculan komunitas-komunitas pencinta tim tertentu di berbagai blog, media sosial, dan bahkan sudah merambah ke dunia nyata. Mereka berkumpul, menonton pertandingan bersama, berbicara tentang tim kesayangan, membeli atribut dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut merupakan perilaku wajar yang memang seharusnya kita lakukan sebagai fanatisme suportersepak bola kita terhadap klub idola kita.
Dan bagaimana jadinya jika fanatisme suporter sepak bola seperti kita sudah mulai melewati batas? Salah satu contohnya di dunia maya saat ini, kita dapat dengan mudah mencari kata “Glory Hunter” yang banyak diperbincangkan saat ini. Glory hunter dalam artian sebenarnya adalah pencari kejayaan. Yang dimaksud di sini adalah mereka para fans sepak bola yang tiap tahunnya mendukung tim yang berbeda-beda –tergantung tim mana yang sedang berjaya. Mereka yang ‘Glory Hunter’ sudah pasti dapat dengan mudah mengintimidasi para suporter lawannya dikarenakan tim yang mereka dukung saat itu baru saja menjadi juara atau mencapai kejayaan. Dan mereka yang terpancing tentu saja tidak terima dengan hal tersebut dan membalas cemoohan atau ejekan tersebut.  Glory Hunter sudah jelas termasuk dalam fenomena fanatisme sepak bola yang berlebihan dan sudah tidak rasional. Para Glory Hunter beranggapan bahwa dirinya lah yang paling berjaya. Juga beranggapan bahwa di dunia ini yang kita cari hanyalah kemenangan. Mereka mengumbar kegemaran terhadap suatu tim yang sedang berjaya setiap tahunnya. Mereka ‘mengotori’ berbagai media sosial dan blog dengan perkataan-perkataan yang sudah berada di luar nalar. Mereka berdalih bahwa dirinya adalah seorang pemenang dalam hidup ini. Buat apa mendukung tim idola tapi tak kunjung juara selama bertahun-tahun?
Kini di dunia maya, fanatisme suporter sepak bola kerap kali ditemukan diberbagai kolom-kolom komentar diberbagai portal berita besar, dan baca sebuah berita mengenai hasil pertandingan atau sudut pandang suatu klub/pemain/pelatih sepak bola, lalu baca kolom komentar di bawahnya. Kita akan menemukan sebagian besar berisi cemoohan, ejekan, sumpah serapah, perang kata-kata dan lain-lain layaknya seorang yang mati-matian membela harga dirinya.
Jadi seperti yang sudah disebutkan diatas, fanatisme suporter sepak bola terutama di dunia maya memang dibutuhkan. Dampaknya pun berpengaruh untuk semua pihak. Tim kesayangan menambah kepopularitas, mendatangkan sponsor, mendatangkan pemain hebat dan lain sebagainya. Untuk para fans? Kita bisa melihat tim kesayangan lebih sering muncul dalam televisi, kita bisa lebih dekat dengan pemain idola melalui jejaring sosial atau website klub, kita bisa menyaksikan langsung tim kesayangan terutama saat sedang melakukan tour dan mampir ke negara kita. Inilah globalisasi sepak bola modern saat ini. Menjadi fans fanatik atau tidak itu pilihan kita sendiri, asalkan tidak merugikan dan membuat orang lain tidak nyaman dengan kefanatikan kita terhadap sesuatu yang kita gemari. 


Sumber : http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/03/28/fenomena-fanatisme-suporter-sepak-bola-di-dunia-maya-642864.html

0 komentar:

Posting Komentar