Seiring dengan
perkembangan zaman, fanatisme seseorang atau suatu kelompok terhadap
suatu yang mereka gemari dapat dengan mudah kita temui di dunia maya.
Bisa dikatakan demikian karena mereka akan selalu ‘menampilkan’ dirinya
apabila terdapat hal, pembahasan, atau berita mengenai sesuatu yang
mereka gemari. Fanatisme penggemar di dunia maya ini bermacam-macam
jenisnya mulai dari mereka yang menggemari artis, penyanyi, band, atlet,
klub olahraga, atau apa pun yang berhubungan dengan Korea. Dalam
konteks ini, fanatisme suporter sepakbola -klub olahraga untuk lebih
spesifiknya- mendapat ranking teratas dalam urutan kefanatikan penggemar
di dunia nyata maupun dunia maya. Mengapa demikian? Selain karena sepak
bola merupakan olahraga paling populer dan digemari terutama di
kalangan masyarakat Indonesia, juga disebabkan pertandingan sepak bola
di televisi kini tidak terhitung jumlahnya tiap pekan. Dan apabila dalam
satu pertandingan saja kefanatikan suporter ini dapat dengan mudah kita
temui, apa yang terjadi dalam kurun waktu satu minggu?
Fanatisme secara harafiah adalah suatu
pandangan, bisa positif atau negatif, terhadap sesuatu yang tidak
bersandarkan pada teori dan kenyataan, namun dianut sangat mendalam
sehingga menjadi suatu kebiasaan yang sulit luruskan atau dihentikan.
Fanatisme bermodalkan keyakinan. Biasanya, seseorang yang terlalu
fanatik terhadap sesuatu secara tidak sadar telah merubah pola pikirnya
menjadi tidak rasional. Fanatisme ini tidak hanya memiliki faham
sendiri, mereka juga menyebarkan faham/kepercayaan mereka sehingga
faham/kepercayaan lain yang bertentangan tidak lagi mendapat tempat di
masyarakat atau kelompok tertentu. Dalam hal fanatisme suporter sepak
bola ini misalnya, seseorang atau kelompok A akan mendapat ‘intimidasi’
dari kelompok/suporter B yang tim sepak bolanya baru saja baru saja
mengalahkan tim sepak bola A.
Intimidasi yang dimaksud dalam konteks ini
tentu saja yang terjadi di dunia maya dan media sosial seperti Facebook,
Twitter, dan lain-lain. Ejekan, cemooh, atau cacian dapat dengan mudah
kita temui di dunia maya dan media sosial saat akhir pekan. Karena pada
saat itulah tayangan sepak bola sedang padat-padatnya. Dampaknya, buat
mereka yang tidak termasuk dalam kategori suporter fanatik akan merasa
terganggu karena biar bagaimana pun fanatisme yang berlebihan, dalam hal
apa pun, tentu tidak terasa nyaman dilihat dan tidak baik. Fanatisme
suporter sepak bola ini nantinya akan ‘mengotori’ berbagai media sosial
dan blog-blog dengan perkataan-perkataan yang tidak seharusnya
dikeluarkan.
Mari kita mengerucutkan sedikit tentang
fanatisme suporter sepak bola. Di Indonesia misalnya, banyak dari
bebagai golongan masyarakat menyukai olahraga terpopuler ini. Namun
dikarenakan terpisah oleh jarak ribuan kilometer yang bisa kita lakukan
hanyalah menontonnya melalui pesawat televisi, memberi komentar dan lain
sebagainya. Hal tersebut memang normal. Di negara Asia mana pun
melakukan hal yang sama. Dan sepak bola tidak akan menjadi sebegitu
populernya jika bukan karena fanatisme para suporternya. Sepak bola
adalah substansi yang tidak bisa dipisahkan dari fanatisme. Kita tidak
bisa membayangkan bagaimana sepak bola tanpa fanatisme suporternya.
Mungkin kita tidak akan melihat tribun-tribun penuh bergemuruh
menyanyikan lagu-lagu khas tim masing-masing.
Fans mempunyai pengaruh yang luar biasa untuk
tim yang didukungnya. Fans yang sesungguhnya, yang datang menonton
langsung ke stadion dapat membantu finansial klub dengan membeli tiket
pertandingan, marchendise, bahkan fans mampu mengintimidasi langsung
wasit pengadil di lapangan maupun pemain lawan. Namun yang harus digaris
bawahi di sini adalah kefanatikan para suporter sepak bola layar kaca
(plastic fans) di Indonesia yang mulai “out of the box” dan
sudah tidak wajar. Sebagai fans jarak jauh, kita juga sangat
mempengaruhi apa pun yang berkaitan dengan klub yang kita dukung dari
sisi yang berbeda. Kita dapat membeli marchendise klub, kita dapat
mencari apa pun informasi mengenai klub idola kita hanya dengan melihat
website, melalui dunia maya fans dapat menuntut untuk mengganti pelatih,
menjual pemain yang jelek, atau membeli pemain yang kita inginkan,
meski belum tentu terlihat dampaknya dengan pasti.
Contoh lainnnya pengaruh fans di dunia maya adalah banyaknya like
pada Facebook fan page Manchester United dan Barcelona akan menambah
tingkat kepopuleran tim tersebut. Otomatis tim terpopuler akan
mendatangkan sponsor yang banyak yang nantinya akan menjadi income untuk
mereka.Fenomena fans sepak bola di Indonesia mulai ramai dan banyak
bermunculan komunitas-komunitas pencinta tim tertentu di berbagai blog,
media sosial, dan bahkan sudah merambah ke dunia nyata. Mereka
berkumpul, menonton pertandingan bersama, berbicara tentang tim
kesayangan, membeli atribut dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut
merupakan perilaku wajar yang memang seharusnya kita lakukan sebagai
fanatisme suportersepak bola kita terhadap klub idola kita.
Dan bagaimana jadinya jika fanatisme suporter
sepak bola seperti kita sudah mulai melewati batas? Salah satu
contohnya di dunia maya saat ini, kita dapat dengan mudah mencari kata
“Glory Hunter” yang banyak diperbincangkan saat ini. Glory hunter dalam
artian sebenarnya adalah pencari kejayaan. Yang dimaksud di sini adalah
mereka para fans sepak bola yang tiap tahunnya mendukung tim yang
berbeda-beda –tergantung tim mana yang sedang berjaya. Mereka yang
‘Glory Hunter’ sudah pasti dapat dengan mudah mengintimidasi para
suporter lawannya dikarenakan tim yang mereka dukung saat itu baru saja
menjadi juara atau mencapai kejayaan. Dan mereka yang terpancing tentu
saja tidak terima dengan hal tersebut dan membalas cemoohan atau ejekan
tersebut. Glory Hunter sudah jelas termasuk dalam fenomena fanatisme
sepak bola yang berlebihan dan sudah tidak rasional. Para Glory Hunter
beranggapan bahwa dirinya lah yang paling berjaya. Juga beranggapan
bahwa di dunia ini yang kita cari hanyalah kemenangan. Mereka mengumbar
kegemaran terhadap suatu tim yang sedang berjaya setiap tahunnya. Mereka
‘mengotori’ berbagai media sosial dan blog dengan perkataan-perkataan
yang sudah berada di luar nalar. Mereka berdalih bahwa dirinya adalah
seorang pemenang dalam hidup ini. Buat apa mendukung tim idola tapi tak
kunjung juara selama bertahun-tahun?
Kini di dunia maya, fanatisme suporter sepak
bola kerap kali ditemukan diberbagai kolom-kolom komentar diberbagai
portal berita besar, dan baca sebuah berita mengenai hasil pertandingan
atau sudut pandang suatu klub/pemain/pelatih sepak bola, lalu baca kolom
komentar di bawahnya. Kita akan menemukan sebagian besar berisi
cemoohan, ejekan, sumpah serapah, perang kata-kata dan lain-lain
layaknya seorang yang mati-matian membela harga dirinya.
Jadi seperti yang sudah disebutkan diatas,
fanatisme suporter sepak bola terutama di dunia maya memang dibutuhkan.
Dampaknya pun berpengaruh untuk semua pihak. Tim kesayangan menambah
kepopularitas, mendatangkan sponsor, mendatangkan pemain hebat dan lain
sebagainya. Untuk para fans? Kita bisa melihat tim kesayangan lebih
sering muncul dalam televisi, kita bisa lebih dekat dengan pemain idola
melalui jejaring sosial atau website klub, kita bisa menyaksikan
langsung tim kesayangan terutama saat sedang melakukan tour dan mampir
ke negara kita. Inilah globalisasi sepak bola modern saat ini. Menjadi
fans fanatik atau tidak itu pilihan kita sendiri, asalkan tidak
merugikan dan membuat orang lain tidak nyaman dengan kefanatikan kita
terhadap sesuatu yang kita gemari.
Sumber : http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/03/28/fenomena-fanatisme-suporter-sepak-bola-di-dunia-maya-642864.html


0 komentar:
Posting Komentar