Selasa, 07:53 WIB, 10 Maret 2015
Selamat pagi sobat sudah beberapa bulan saya ga ngeblog maklum sibuk hehe *GayaDikitGpp* hehe Oke langsung nih baca sendiri dibawah sendiri saya ngeblog tentang apa :D
Merayakan Tahun Baru
Penghujung
tahun dan hari pertama tahun baru Masehi merupakan momen yang sangat berharga
bagi sebagian orang. Mereka pun menyiapkan segala sesuatu, dengan berbagai
macam pesta untuk menyambut tahun baru.
Di
negeri kita, saat malam pergantian tahun baru Masehi, para muda-mudi biasanya
menggelar berbagai pesta. Di antara mereka ada yang bergadang larut malam untuk
menunggu jam 00.00 tiba. Apabila waktunya telah tiba, mereka bergembira dan
dengan serentak meniup terompet dan berpesta kembang api.
Pawai sepeda motor pun dimulai dengan menarik gas sepenuhnya disertai yel-yel
yang memekakkan telinga. Pada hari pertama tahun Masehi, mereka menghadiri
panggung-panggung hiburan konser musik yang digelar di berbagai tempat di
alun-alun, THR (tempat hiburan rakyat), maupun di tempat-tempat rekreasi
lainnya.
Campur
baur antara muda-mudi, bergandengan tangan dengan lawan jenis (yang memang
telah direncanakan sebelumnya oleh pasangan muda-mudi tersebut), gelak tawa dan
canda, isapan rokok yang bagaikan asap dari
cerobong pabrik, serta berbagai minuman menjadi teman akrab yang senantiasa
menyertai mereka.
Televisi,
radio, dan para pemilik pusat perbelanjaan tidak mau absen dari ikut serta
memeriahkan tahun baru. Berbagai promosi dan diskon besar-besaran diadakan
dalam rangka menyambut Natal dan tahun baru Masehi. Begitu meriah acara yang
digelar oleh mereka untuk menyambut kedatangan tahun baru masehi tersebut,
sehingga membuat kebanyakan orang terbuai, tidak sadar ikut hanyut terbawa
arus. Mereka tidak melihat berbagai macam dilema keagamaan, sosial, dan
masyarakat yang timbul karenanya. Mereka tidak tahu bahwa perayaan tahun baru tidak ada tuntunannya dari
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Semua itu hanyalah sebuah pemborosan,
membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya sama
sekali.
Fenomena
seperti ini merupakan realita kehidupan yang senantiasa berulang setiap
pergantian tahun. Bahkan dari tahun ke tahun makin bertambah semarak dan makin
tidak terkendalikan arusnya. Tahun ini, wallahu a’lam apakah yang akan terjadi
dan mewarnai awal tahun baru Masehi di negeri kita ini.
Seorang
muslim yang memiliki kecemburuan besar terhadap agamanya, tentu tidak setuju
dengan semua itu, dan tentu tidak setuju bila hal itu sampai terjadi di tengah keluarga kita. Kita semua harus tahu bahwa pergantian
tahun merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang tiada tara, yang hanya
dipahami oleh orang-orang yang berakal yang memikirkan tanda-tanda
kekuasaan-Nya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”(Qs.Ali Imron[3]: 190-191)
Perayaan
tahun baru di beberapa negara terkait erat dengan keagamaan atau kepercayaan
mereka terhadap para dewa. Jika seorang muslim telah memahami hal ini, maka
tentu ia akan memahami bahwa bagi sebagian kaum kafir, merayakan tahun baru merupakan peribadahan. Sehingga
apabila seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru maka boleh dibilang
kerena ketidaktahuannya terhadap agamanya sebab ia telah menyerupai orang kafir
yang menentang Allah dan Rasul-Nya.
Ingkarilah
kemungkaran karena kemungkaran merupakan jalan menuju petaka. Begitu bahayanya
akibat dari kemungkaran, maka seorang muslim harus berusaha sekuat tenaga untuk
mencegah dan mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang ada sebatas kemampuannya,
walau hanya dengan hati. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang
siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya)
dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya
(menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak
senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Makin
bertambah usia seorang muslim seharusnya makin ia sadar akan memanfaakan waktu
dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat serta
menjauhkan dirinya dari sesuatu yang membahayakan. Hendaklah kita mengingat
masa penangguhan hidup kita di dunia. Ketika seorang muslim memasuki tahun
baru, ia akan ingat bahwa berarti ia makin mendekati akhir masa penangguhan
hidup di dunia ini. Bila senantiasa mengingat hal ini, maka kita pun akan
semakin bersemangat mencari bekal untuk mendapatkan kebahagiaan
ukhrowi (akhirat) yang kekal abadi. Berbahagialah dengan keislaman kita. Agama
kita berbeda dengan agama lain, sehingga dilarang menyerupai orang kafir,
terlebih lagi mengikuti cara beragamanya kaum kafir. Oleh karena itu, hendaknya
setiap muslim meninggalkan perayaan tahun baru dan penanggalan ala kafir.
Sebaiknya kita menghidupkan penanggalan Islam dalam rangka meninggikan syiar
dan izzah Islam serta kaum muslimin. Selain itu, hendaknya kita mengingat
kebesaran dan keagungan-Nya sehingga akan menambah rasa takut, cinta dan
berharap akan ridho-Nya.
Diringkas
dari artikel “Tahun
Baru Haruskah Dirayakan?” oleh Abu Zahroh al-Anwar, Majalah al-Mawaddah
Edisi ke-5 Tahun ke-2 Dzulhijjah 1429 H/Desember 2008



0 komentar:
Posting Komentar