Slide 1 Title Here
Replace these slide 1 sentences with your own featured slide descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions...
Slide 2 Title Here
Replace these slide 2 sentences with your own featured slide descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions...
Slide 3 Title Here
Replace these slide 3 sentences with your own featured slide descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions...
Selasa, 10 Maret 2015
Support
Your Local Football Team
Banyak
orang yang dengan bangganya memakai kaos, jaket atau atribut apapun yang
berhubungan dengan bola luar semisal Barcelona, Real Madrid, Chelsea, Juventus,
Manchester United dan sebagainya, padahal belum tentu mereka benar-benar bisa
mendukung langsung tim kesukaannya, mungkin hanya segelintir orang yang memang
punya banyak uang yang datang langsung kesana, itupun tidak setiap pertandingan
bukan??
Memang
gak ada undang-undang yang melarang itu semua sih, setiap orang juga punya hak
untuk suka dengan tim sepakbola manapun. Tapi apakah mereka punya kepuasan
hanya dengan memakai atributnya saja?? Apa mereka puas hanya dengan menontonnya
di layar kaca tanpa merasakan langsung bagaimana rasanya menonton di dalam
stadion dengan euforia yang selalu membuat bulu kuduk setiap orang merinding???
Jelas saya katakan Tidak Puas untuk seorang supporter, jika ada yang mengatakan
puas berarti mereka bagian dari orang yang munafik, atau memang hanya ingin terlihat
keren???
Saya
cuma bisa berfikir dan bertanya apa salahnya kita buka mata untuk sepakbola di
Indonesia? Toh di Indonesia juga sepakbolanya tidak terlihat jelek, masih
pantas tampil melawan tim-tim sepakbola negara luar. Bahkan bukan tidak mungkin
jika kita dukung tim sepakbola kita, sepakbola kita akan sejajar dengan tim
sepakbola sekelas tim sepakbola di liga Inggris atau liga Spanyol. Tim yang
kita dukung selalu menang dan terkenal di dunia, pemain-pemainnya pun punya
skill tersendiri yang bisa diacungi jempol, diidolakan banyak orang, dan
dielu-elukan oleh semua kalangan. Ya, semua itu tidak mustahil, memang tidak
mudah untuk menjadi tim sepakbola sekelas tim sepakbola dunia, tapi tidak juga
kita harus pesimis dan meremehkan sepakbola negara kita sendiri.
Akhir-akhir
ini kalo saya perhatiin udah tidak sedikit lagi orang yang menganggap remeh tim
sepakbola Indonesia, walaupun banyak juga yang baru mulai berantusias dan
mencoba menjadi supporter yang turun langsung ke tribun. Terlihat aneh, janggal
ketika banyak tim-tim sepakbola bertaburan di Indonesia, bibit-bibit pemain
baru calon pembawa nama harum Indonesia yang harusnya kita dukung penuh, kita
banggakan, tetapi malah dipandang sebelah mata, ditakuti karena rusuh bahkan
dicemooh hanya karena faktor-faktor yang tidak dimiliki di sepakbola yang ada
di luar negeri.
Bolehlah
suka dan dukung tim sepakbola luar, tapi saran saya, cobain dulu deh dukung
langsung dateng ke stadion untuk tim sepakbola Indonesia, bedain dengan cuma
nonton di tv tengah malem sampe pagi teriak-teriakan ganggu tetangga tidur,
bohong kalo gak ketagihan dateng ke stadion teriak-teriakan langsung. Lagian
kalo dikalkulasikan mungkin biaya satu kali perjalanan ke kota tempat tim bola
luar yang kita suka itu bisa jadi biaya beberapa kali tour ke stadion di
kota-kota seluruh Indonesia.
Lewat
tulisan ini saya cuma mau mengajak, tidak cuma untuk supporter PSS Sleman, tapi
semua orang pecinta sepakbola, yuk mulai sekarang kita dukung tim-tim sepakbola
yang ada di indonesia, baik Amatir, Divisi Utama, Liga Indonesia ataupun ISL.
Tim sepakbola Indonesia juga gak kalah kualitasnya dengan tim sepakbola luar,
banyak tim dengan pemain yang memang berkelas seperti PSS Sleman, Persija,
Arema, Sriwijaya, Persipura, Persib, Persela, Persebaya dll. Jadi tidak ada
alasan untuk tidak bisa dan tidak mau untuk mendukung tim sepakbola Indonesia,
karena sekarang sudah banyak tim-tim sepakbola yang berasal dari seluruh sudut
kota atau daerah di Indonesia. Kita banggakan dan kita dukung tim sepakbola
dari kota atau daerah kita, kita jadikan stadion sesuai dengan peruntukkannya.
Untuk
teman-teman yang sudah mendukung tim-tim sepakbola Indonesia, yuk kita jaga
keharmonisan hubungan tim-tim sepakbola kebanggan kita, jangan ada lagi
rusuh-rusuh beratasnamakan sepakbola, jadikan sepakbola Indonesia terpandang
dan disegani lawan-lawannya.
Sekali
lagi, saya supporter dan Pecinta PSS Sleman atas nama Indonesia lebih bangga
memakai atribut tim lokal kebanggan saya, walaupun diluar sana banyak yang
lebih bangga dengan atribut bola luarnya. so, proud for your local football and
come on support your local football.
Merayakan Tahun Baru
Selasa, 07:53 WIB, 10 Maret 2015
Selamat pagi sobat sudah beberapa bulan saya ga ngeblog maklum sibuk hehe *GayaDikitGpp* hehe Oke langsung nih baca sendiri dibawah sendiri saya ngeblog tentang apa :D
Merayakan Tahun Baru
Penghujung
tahun dan hari pertama tahun baru Masehi merupakan momen yang sangat berharga
bagi sebagian orang. Mereka pun menyiapkan segala sesuatu, dengan berbagai
macam pesta untuk menyambut tahun baru.
Di
negeri kita, saat malam pergantian tahun baru Masehi, para muda-mudi biasanya
menggelar berbagai pesta. Di antara mereka ada yang bergadang larut malam untuk
menunggu jam 00.00 tiba. Apabila waktunya telah tiba, mereka bergembira dan
dengan serentak meniup terompet dan berpesta kembang api.
Pawai sepeda motor pun dimulai dengan menarik gas sepenuhnya disertai yel-yel
yang memekakkan telinga. Pada hari pertama tahun Masehi, mereka menghadiri
panggung-panggung hiburan konser musik yang digelar di berbagai tempat di
alun-alun, THR (tempat hiburan rakyat), maupun di tempat-tempat rekreasi
lainnya.
Campur
baur antara muda-mudi, bergandengan tangan dengan lawan jenis (yang memang
telah direncanakan sebelumnya oleh pasangan muda-mudi tersebut), gelak tawa dan
canda, isapan rokok yang bagaikan asap dari
cerobong pabrik, serta berbagai minuman menjadi teman akrab yang senantiasa
menyertai mereka.
Televisi,
radio, dan para pemilik pusat perbelanjaan tidak mau absen dari ikut serta
memeriahkan tahun baru. Berbagai promosi dan diskon besar-besaran diadakan
dalam rangka menyambut Natal dan tahun baru Masehi. Begitu meriah acara yang
digelar oleh mereka untuk menyambut kedatangan tahun baru masehi tersebut,
sehingga membuat kebanyakan orang terbuai, tidak sadar ikut hanyut terbawa
arus. Mereka tidak melihat berbagai macam dilema keagamaan, sosial, dan
masyarakat yang timbul karenanya. Mereka tidak tahu bahwa perayaan tahun baru tidak ada tuntunannya dari
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Semua itu hanyalah sebuah pemborosan,
membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya sama
sekali.
Fenomena
seperti ini merupakan realita kehidupan yang senantiasa berulang setiap
pergantian tahun. Bahkan dari tahun ke tahun makin bertambah semarak dan makin
tidak terkendalikan arusnya. Tahun ini, wallahu a’lam apakah yang akan terjadi
dan mewarnai awal tahun baru Masehi di negeri kita ini.
Seorang
muslim yang memiliki kecemburuan besar terhadap agamanya, tentu tidak setuju
dengan semua itu, dan tentu tidak setuju bila hal itu sampai terjadi di tengah keluarga kita. Kita semua harus tahu bahwa pergantian
tahun merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang tiada tara, yang hanya
dipahami oleh orang-orang yang berakal yang memikirkan tanda-tanda
kekuasaan-Nya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”(Qs.Ali Imron[3]: 190-191)
Perayaan
tahun baru di beberapa negara terkait erat dengan keagamaan atau kepercayaan
mereka terhadap para dewa. Jika seorang muslim telah memahami hal ini, maka
tentu ia akan memahami bahwa bagi sebagian kaum kafir, merayakan tahun baru merupakan peribadahan. Sehingga
apabila seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru maka boleh dibilang
kerena ketidaktahuannya terhadap agamanya sebab ia telah menyerupai orang kafir
yang menentang Allah dan Rasul-Nya.
Ingkarilah
kemungkaran karena kemungkaran merupakan jalan menuju petaka. Begitu bahayanya
akibat dari kemungkaran, maka seorang muslim harus berusaha sekuat tenaga untuk
mencegah dan mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang ada sebatas kemampuannya,
walau hanya dengan hati. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang
siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya)
dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya
(menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak
senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Makin
bertambah usia seorang muslim seharusnya makin ia sadar akan memanfaakan waktu
dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat serta
menjauhkan dirinya dari sesuatu yang membahayakan. Hendaklah kita mengingat
masa penangguhan hidup kita di dunia. Ketika seorang muslim memasuki tahun
baru, ia akan ingat bahwa berarti ia makin mendekati akhir masa penangguhan
hidup di dunia ini. Bila senantiasa mengingat hal ini, maka kita pun akan
semakin bersemangat mencari bekal untuk mendapatkan kebahagiaan
ukhrowi (akhirat) yang kekal abadi. Berbahagialah dengan keislaman kita. Agama
kita berbeda dengan agama lain, sehingga dilarang menyerupai orang kafir,
terlebih lagi mengikuti cara beragamanya kaum kafir. Oleh karena itu, hendaknya
setiap muslim meninggalkan perayaan tahun baru dan penanggalan ala kafir.
Sebaiknya kita menghidupkan penanggalan Islam dalam rangka meninggikan syiar
dan izzah Islam serta kaum muslimin. Selain itu, hendaknya kita mengingat
kebesaran dan keagungan-Nya sehingga akan menambah rasa takut, cinta dan
berharap akan ridho-Nya.
Diringkas
dari artikel “Tahun
Baru Haruskah Dirayakan?” oleh Abu Zahroh al-Anwar, Majalah al-Mawaddah
Edisi ke-5 Tahun ke-2 Dzulhijjah 1429 H/Desember 2008



